Teknologi Perbenihan Tanaman Jati di PERHUTANI Ciamis


Perum Perhutani Unit III - KM 2 Kertasari Ciamis
Sumber : Dokumentasi, 2015

Perum Perhutani (Perusahaan Hutan Negara Indonesia) adalah perusahaan yang bergerak di bidang Kehutanan (khususnya di Pulau Jawa dan Madura) dan mengemban tugas serta wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pengelolaan Sumber Daya Hutan (SDH) dengan memperhatikan aspek produksi/ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam operasionalnya, Perum Perhutani berada di bawah koordinasi Kementerian BUMN dengan bimbingan teknis dari Departemen Kehutanan. Saat Fieldtrip Agribisnis tahun 2015, saya berkesempatan mengunjungi Perum Perhutani Unit III - KM 2 Kertasari Ciamis. Produk yang dihasilkan oleh Perum Perhutani Ciamis yaitu kayu jati untuk tanaman industri tentunya, air mineral serta madu.

Perum Perhutani Ciamis memiliki luas 29 ha dan merupakan kawasan hutan nasional wilayah Jawa Barat dan Banten. Tanaman yang ditanam di Perhutani Ciamis yaitu Jati, Pinus dan Mahoni. Salah satu tanaman penghasil kayu pertukangan yang penting di Indonesia yaitu jati, turut dikembangkan oleh Perum ini. Jati terkenal dengan tanaman yang memiliki usia panen yang sangat lama namun memiliki manfaat besar pada setiap bagian pohonnya. Kayu jati terkenal kuat dan tidak mudah rapuh membuat jati banyak dicari dan memiliki nilai usaha yang tinggi jika digeluti secara tepat. Teknologi perbanyakan tanaman jati mulai dikembangkan oleh Perum Perhutani untuk memperbaiki kuantitas produksi bibit jati siap tanam sehingga menghasilkan produk kayu yang memiliki jumlah besar dan cepat.


Bibit Tanaman Jati
Sumber : Dokumentasi, 2015 

Jati (Tectona Grandis) adalah tumbuhan yang tumbuh alami di Asia Selatan dan Tenggara. Di Indonesia, Jati awalnya tumbuh sebagian besar di Jawa, Madura, Kangean, Sulawesi Tenggara, Muna dan Buton. Daerah yang menjadi tempat pertumbuhan jati tersebut memiliki ciri musim kering 3-6 bulan tiap tahun, curah hujan 1.250-2.500 mm per tahun, tekstur tanah sedang dengan pH netral hingga asam.

Beberapa ciri umum dari tanaman jati ialah sebagai berikut :
  1. Tinggi pohon bisa mencapai 30-35 m pada tanah yang bersolum tebal dan subur
  2. Tajuk membulat, batang silindris, tinggi batang bebas cabang antara 10-20 m, pada bagian batang sering beralur. Kulit batang memiliki tebal 3 mm pada tanaman muda dan dapat mencapai 0.5-0.7 cm pada tanaman tua, berwarna coklat muda-keabuan
  3. Kayu teras berwarna cokelat muda hingga cokelat tua atau cokelat kemerahan, sedangkan kayu gubal berwarna coklat muda keputihan atau putih kekuningan
  4. Jati memiliki daun tunggal, bertangkai pendek, memiliki duduk daun berseling berhadapan, bentuk duduk daun elips-bulat telur, panjang daun antara 23-40 cm sedangkan lebar daun 11-21 cm. Daun yang masih muda (tunas) berwarna cokelat kemerahan, dan tanaman menggugurkan daunnya pada musim kemarau untuk mengurangi penguapan.
Dalam rangka peningkatan produktivitas hasil hutan dengan umur yang relatif cepat maka Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) penyediaan bibit unggul sangat diperlukan. Penyediaan bibit unggul yang diperoleh dari benih unggul memerlukan waktu untuk melakukan seleksi pada plot keturunannya, sehingga pengembangan melalui teknik perbanyakan vegetatif yang tepat adalah solusi yang diterapkan oleh Perhutani Ciamis. 

Strategi yang diperlukan dalam penerapan teknik perbanyakan vegetatif diawali dengan pemilihan pohon induk yang baik (pohon superior), pengambilan materi genetik (bahan vegetatif tanaman), pembuatan okulasi, pembangunan kebun pangkas, dan produksi bibit secara masal dengan menerapkan teknik stek pucuk atau kultur jaringan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Perum Perhutani Ciamis adalah pembangunan kebun pangkas serta melakukan teknik stek pucuk. Hal ini dilakukan agar mendapatkan produktivitas yang lebih baik dan bersifat adaptif terhadap lokasi pengembangannya.

Teknik Stek Pucuk
Sumber : Dokumentasi, 2015


Kebun Pangkas
Sumber : Dokumentasi, 2015

Teknik stek pucuk digunakan untuk pengembangan bibit secara massal. Pengembangan teknik stek pucuk diawali dengan pembangunan kebun pangkas sebagai penghasil tunas untuk pengembangan stek pucuk. Kebun pangkas dibangun dengan menerapkan sistem okulasi, dimana benih yang digunakan yaitu benih jati plus Perhutani. Asal mula kebun pangkas yaitu sebagai berikut :

  1. Penyiapan materi tanaman diawali dengan pemilihan pohon induk yang merupakan pohon jati varietas PHT 1. Pengambilan bahan vegetatif berupa cabang yang memiliki mata tunas dorman sebagai bahan scion. Pembuatan okulasi di persemaian dan dipeliharan sampai bibit siap tanam yaitu telah berumur lebih dari 3 bulan dengan tinggi tunas mencapai 20-30 cm.
  2. Penyiapan lahan diawali pemilihan lokasi dan pembuatan bedeng untuk kebun pangkas. Lokasi kebun pangkas sebaiknya pada lahan datar sampai agak miring, tidak tergenang air, mendapat cahaya matahari yang cukup sepanjang hari, juga mempunyai tanah yang subur dan gembur, lapisan tanahnya agak dalam,
  3. Lokasinya sebaiknya berada tidak jauh dari persemaian. Pembuatan bedengan dapat dibuat dengan mengikuti arah utara – selatan, tanah dicampur pupuk kandang kompos yang digundukkan, ukuran bedeng dapat disesuaikan dengan kebutuhan bibit dan jenis tanaman, sekeliling bedeng dibuat parit (selebar 50 cm). Sebaiknya setiap 10 bedengan dibuatkan jalan angkutan dan jalan pemeriksaan.
  4. Penanaman bibit hasil okulasi dalam bedengan/guludan dengan jarak tanam 1m x 1m. Dengan memiliki lubang tanam 40cm x 40cm. Sedangkan media tanam yang digunakan yaitu pupuk kandang serta tanah.
  5. Pemotongan batang dilakukan setelah tanaman tumbuh yang tingginya sekitar 2,5-3 m. Pemangkasan batang dilakukan setinggi 50 cm dan dibiarkan tunas baru tumbuh dengan baik.
  6. Perundukan cabang yang tumbuh dilakukan dengan cara menarik cabang ke bawah secara hati-hati agar tidak patah, kemudian diikat dengan tali dan diberi pemberat atau diikatkan pada patok.
  7. Pemangkasan daun-daun yang terdapat pada cabang yang dirundukkan sekitar 2/3 bagiannya. Tujuan pemangkasan daun adalah untuk memacu tunas-tunas baru yang berisifat orthotrop.
  8. Pemeliharaan kebun pangkas harus dilakukan agar tanaman dapat menghasilkan tunas/trubusan dalam jumlah yang memadai. Kegiatan pemeliharaan tersebut meliputi penyiraman dan pemupukan.

Kebun pangkas Perhutani Ciamis dapat bertahan hingga 10 tahun lamanya. Setelah batas waktu tersebut, kebun pangkas diganti dengan jati yang baru dan menggunakan teknik yang sama. Setelah pucuk berumur 10-14 hari, pucuk tersebut dapat dipangkas untuk ditanam menggunakan teknik stek pucuk. Ciri bahwa pucuk tersebut sudah siap pangkas yaitu sepasang daun di bawah pucuknya terlihat tidak terlalu besar dan lebar, kemudian pucuk terlihat segar. Proses penanaman jati melalui stek pucuk yaitu :

  1. Media tanam yang terdiri dari campuran pupuk kandang, pasir dan tanah (3:2:1) disiapkan dalam polybag transparan berukuran kecil. Penyiraman dilakukan untuk menjaga kelembaban media tanam sebelum ditanami oleh stek pucuk jati dari kebun pangkas. Media tanam diletakkan dalam bedeng induksi dan lubangi dengan minimal kedalaman 2cm.
  2. Pucuk yang dihasilkan dari kebun pangkas berusia 10-14 hari dipangkas sedikit daun-daunnya untuk mengurangi penguapan berlebih. Ujung batangnya dipangkas sedikit kemudian rendam dalam zat perangsang akar dengan ukuran 0.2 gram zat ditambah 1000 ml air. Pucuk direndam selama 10-15 menit.
  3. Bibit dari stek pucuk jati ditanam di bedeng induksi kemudian tutup bedeng dengan plastik. Dilakukan penyiraman satu kali dalam sehari, akar akan tumbuh saat berusia 3 hingga 4 minggu. Saat bibit mulai terlihat kuat, plastik dapat dibuka dan ditutup untuk memperkenalkan bibit terhadap lingkungan luar. Saat akar mulai terlihat banyak, pindahkan bibit ke bedeng shading.
  4. Bedeng shading diperuntukan bagi bibit jati untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.Bibit tetap terlindung dari paparan sinar matahari langsung, karena letak bedeng shading ini di sebelah bedeng induksi dan di dalam ruang beratap paranet. Pada bedeng ini dapat dilakukan proses seleksi bibit dimana bibit yang baik dan kuat dapat dipindahkan ke bedeng open. Bibit yang diletakkan di bedeng shading dirawat hingga satu minggu.
  5. Bibit jati kemudian diletakkan pada ruang terbuka (bedeng open). Pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara memangkas daun dan sisakan hingga 2 pasang daun saja. Akar yang terlalu panjang juga dipangkas untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan bibit. Bibit dalam bedeng open dirawat hingga 2 sampai 4 bulan lamanya. Setelah itu bibit jati dapat dibawa untuk ditanam di lokasi penanaman jati.

Bedeng Induksi
Sumber : Dokumentasi, 2015

Penanaman hasil stek pucuk di Bedeng Induksi
Sumber : Dokumentasi, 2015


Bedeng Shading (diantara Bedeng Induksi)
Sumber : Dokumentasi, 2015


Tahapan pengembangan stek pucuk jati secara singkat dapat digambarkan pada diagram berikut :

Diagram Tahap Pengembangan Stek Pucuk Jati
Sumber : Dokumentasi, 2015
 


Bedeng Open
Sumber : Dokumentasi, 2015



Keunggulan penanaman jati melalui teknik stek pucuk yaitu :

  1. Jati siap ditebang pada usia min 31 tahun, ini lebih cepat dari jati yang ditanam melalui benih yang dapat ditebang pada usia 60 hingga 80 tahun.
  2. Teknik stek digunakan untuk menghasilkan bibit secara massal, sehingga bibit jati yang dapat dihasilkan oleh satu pohon kebun pangkas yaitu sekitar 15 bibit, sehingga jika dijumlahkan akan banyak sekali bibit siap tanam yang dihasilkan oleh Perum Perhutani Ciamis.
Dengan dilakukan teknik penanaman vegetatif secara stek pucuk, diharapkan bahwa produksi jati yang ada di pasaran dapat meningkat dan mendatangan keuntungan baik bagi masyarakat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Comments

Post a Comment